Sederhana Saja !

oleh: Catur Wibowo (Manajer Umum LAZIS UNS)

Bagi kaum muslim di Indonesia, sesuai dengan kalender 2011, terlihat bahwa 1 Muharram 1433 H jatuh pada hari Ahad, 27 November 2011. Bagi sebagian orang, momentum tahun baru Islam (Hijriyah) tidak semenarik  dan semeriah tahun baru masehi yang jatuh setiap 1 Januari.  Tapi itu bukan suatu masalah, karena tahun baru Islam bukan termasuk hari besar yang harus dirayakan seperti halnya  hari Raya Idul Fitri dan Idul adha.

Tahun baru Islam yang diperkirakan jatuh pada 27 November 2011 tersebut hendaknya menjadi momentum istimewa bagi umat Islam, baik secara pribadi maupun masyarakat. Jika melihat sejarah, penentuan  penanggalan hijriyah tidak lepas dari semangat-semangat perubahan. Awalnya, Khalifah Umar bin Khattab yang menetapkan penanggalan Islam dimulai hari Hijratur Rasul. Hal ini dimaksudkan untuk menandai perubahan besar dalam perkembangan Islam, yaitu hijrah Nabi SAW dari Makkah ke Madinah. Sayyidina Umar bin Khattab telah membandingkan dengan kalender Persia dan Romawi, ternyata menurutnya kalender Hijriah lebih baik. Mengikuti sunah Rasul, tidak ada perintah Nabi SAW memperingati atau merayakan tahun baru Hijriah. pada masa Nabi Muhammad SAW, umat Islam  masih menggunakan sistem penanggalan pra-Arab, yaitu campuran penanggalan sistem bulan (qamariah) dan sistem matahari (syamsiah). Rasulullah SAW bahkan melarang meniru budaya bangsa dan umat sebelum Islam, seperti umat Yahudi, bangsa Persia, Romawi, dan umat Nasrani yang merayakan tahun baru mereka.

Yang menarik adalah, system penanggalan Hijriyah dimulai dari momentum hijrah, bukan dimulai dari waktu kelahiran atau  kematian Rasulullah SAW. Tentunya ini menjadi semangat tersendiri, bahwa hijrah adalah peristiwa besar yang melibatkan banyak orang untuk meninggalkan kebatilan dan menuju kebenaran. Di sini penulis berpendapat bahwa Islam, dan telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW serta kholifah-kholifah sesudahnya, menghargai prinsip kebersamaan. Islam bukan agama individu, dan sama sekali tidak pernah terlalu mengagungkan tokoh-tokoh, bahkan nabinya sendiri.

Hal selanjutnya yang perlu dicatat adalah perayaan tahun baru Islam / Hijriyah tidak perlu dirayakan secara mewah. Secara urutan waktu, kita bertemu bulan Muharram setalah sebelumnya melalui Ramadhan sebagai momentum perbaikan diri, lalu bulan Syawal sebagai bulan peningkatan serta bulan Zulhijjah sebagai bulan berkorban. Tentunya saat bertemu dengan 1 Muharram diri kita sudah menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Menjadi pribadi yang lebih bersahaja dan bijaksana.

Meskipun teladan dan icon kesederhanaan itu sulit sekali kita temui, kita harus tetap berusaha. Ada cerita dari seseorang yang baru saja pulang dari tanah suci, bukannya ia bergembira, tapi ia malah sedih.  Yang membuatnya sedih adalah masalah jam. Di hadapan Masjidil Haram, kini tegak berdiri sebuah jam besar. Lebih dari Big Ben, London. Apalagi bila dibanding jam gadang di depan pasar Bukittinggi. Jam ini benar-benar besar. Benar-benar ‘gadang’. Berada hampir di puncak bangunan yang kini termasuk salah satu yang tertinggi di dunia. Dalam rancangan, Makkah diharapkan jadi pusat waktu dunia. Ada keinginan agar Makkah dapat menggantikan peran Greenwich. Untuk itu perlu simbol. Yang paling tepat, simbolnya adalah jam. Tepatnya jam terbesar di dunia. Maka, diwujudkanlah ‘jam gadang’ itu. Jam terbesar di dunia sudah ada di jantung Makkah.

Semestinya ia gembira. Banyak orang bangga melihat ‘jam gadang’. Tapi, dia tidak. Bukan karena jam gadang di dekat kampung halamannya, Bukittinggi, tersaingi. Tapi, karena Makkah sudah begitu berbeda. Berbeda dengan beberapa tahun lampau saat ia mengunjunginya. Berbeda dengan keadaan semestinya yang ia bayangkan. Jam Makkah itu, dalam pandangannya, ‘norak’. Produk orang kaya yang sama sekali tidak terpelajar.

Selama ribuan tahun, ikon Makkah adalah Ka’bah. Simbol kesederhanaan yang luar biasa. Sukses atau bahagia sejati akan tercapai bila manusia mampu menyederhanakan diri. Berhenti mengagungkan segala macam Tuhan dengan bertaut hanya pada Allah Yang Maha Esa. Lepaskan segala atribut. Jadilah diri sendiri yang sejati. Maka, umrah dan haji mengharuskan semua untuk cuma mengenakan kain ihram. Seorang yang wafat juga cuma perlu dililit kain kafan. Tidak lebih.

Sederhana adalah karakter Islam. Nabi Muhammad bisa bermewah-mewah lewat kekuasaannya. Namun, beliau memilih hidup sederhana sampai akhir hayat. Para sahabatnya, Abubakar dan Usman, sangat kaya. Tapi, hidupnya sederhana saja. (ctr-dari berbagai sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Skip to toolbar